Kamis, 19 Maret 2015

Mak ComBLANG Wa Suul Khatimah



Di kisahkan ada seorang pria yang sangat mencintai seorang gadis, karena saking cintanya sampai dia pun jatuh sakit yang berkepanjangan. Sakitnya semakin parah tatkala dia tahu cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Tanpa wanita itu sedikit pun tidak merasa mencintai pria tersebut. Berbagai cara di lakukan oleh orang-orang yang ingin menyatukan dan mengembalikan kekasih yang di dambakannya tersebut. 


            Wanita tersebut sering kali di kunjugi oleh orang-orang yang ingin menyatukan kedua insan yang berbeda itu. Tapi tetap wanita yang di dambakan oleh pria tersebut tidak mau tahu, karena memang wanita ini sebelumnya belum pernah merasa tertarik pada pria yang di tawarkan oleh perantara.

            Tanpa di sengaja kabar burung pun datang kepada pria yang mendambakan wanita tersebut. Berbahagialah hati sang pria, serta kesedihan yang selama ini menderanya sedikit banyak dapat terobati dengan kabar yang di berikan oleh orang-orang itu. 

            Pada detik-detik menunggu waktu yang di janjikan oleh perantara tersebut, datanglah sang perantara kepada laki-laki tadi. Dan perantara itu pun berkata. “Ia menemuiku dan aku menyakini dia akan menyampaikan kabar gembira, tapi tak diyana ia ternyata menolak”. 

            Tatkala mendengar kabar dari perantara tadi sang pria itu terjatuh dan bertambahlah sakit yang di deritanya, dan lebih parah dari sakit sebelumnya. Saat-saat menjelang akhir hayatnya, dia bersenandung:

“Wahai penenang jiwaku dan pengobat rasa sakit dan kepedihanku, aku berserah diri kepadamu.
Keridhaanmu lebih kurindukan dalam jiwa dari pada rahmat Sang Pencipta.”


Maka perantara tadi berkata, “wahai pulan bertaqwalah kepada Allah!”, “sudah pernah aku lakukan”. Jawab pemuda itu. Maka aku tinggalkan pemuda tersebut. Dan sebelum kakiku melewati pintu rumahnya aku mendengar ratapan kematian yang sangat mengerikan. Pembaca kita berlindung kepada Allah dari, su’ul khatimah sebuah akhir yang buruk. Yang semua orang berpotensi untuk mendapatkannya. Na’udzubillahimindzalik


*penulis adalah mahasiswa Ma’had “Utsman bin Affan” Jakarta Timur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar