Cerita Pendek (Cerpen) ini bukan maksud mengungkit kembali duka lama yang
membuahkan hasil manis. Sekedar mengisi waktu kosong untuk menulis dan menulis.
Cerita ini kisah nyata yang pernah dialami Abraham ditahun 2011. Cerpen ini pun
harapannya menjadi kisah indah suatu masa nanti.Panggil saja namanya Abraham, dia adalah seorang anak desa yang hidup sederhana. Dan Alhamdulillah itu terus disyukuri Abraham sampai detik ini. Orang tua mana yang tidak bahagia jika anaknya bisa belajar mandiri dan tentunya taat beragama, semua harapan orangtua tentunya punya niat yang sama.
Berawal dari pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN). Suatu hari ayah mengantarkan Abraham ke satu pondok yang tak begitu jauh dari tempat tinggalnya. padahal sebelumnya Abraham sempat kabur dari rumah mencoba untuk lari dari misi ayahnya yang akan menyekolahkannya ke pondok. Padahal sebelumnya Abraham tidak pernah berniat untuk sekolah dipondok. Suatu ketika perdebatan panjang antara Abraham & Ayah terjadi. pertengkaran semakin panas, maklum Abraham masih anak kecil J
>>>>>> Testingpun sudah Abraham ikuti, selanjutnya menunggu pengumuman kelulusan. Tepatnya tanggal 28 bulan 2 tahun 2001 pengumuman diumumkan melalui media cetak (koran). Anehnya , saat malam tiba Abraham berdoa agar tidak diluluskan. “pokonya nomor testing Abraham jangan tertulis” (harapannya waktu itu).
Ketika pagi tiba. Ayah Abraham ke pasar untuk membeli koran, dalam benaknya berharap “Abraham lulus”. setibanya ayah dirumah, Ayah memanggilnya sembari berkata, “ neukkkk..jak keuno dile, nyo koran ka ayah blo, keno neuk taci kalon, peu na nan gata. lembaran demi lembaran dibuka. Dalam hati Abraham “ peu lee gabuk that”. Hingga akhirnya Ayah menemukan no testing dan jelas yang tertulis di koran itu benar nomor testing anaknya.
>>>> suasana di pondok.
belum genap satu minggu, Abraham kabur dari pondok. Karena suasana di pondok baginya adalah penjara. Lingkungan baru yang harus ditempuhnya.
>>> Tahun berikutnya sang adik juga disekolahkan ditempat yang sama, hari demi hari, tahun berganti demi tahun, suatu ketika Abraham masuk dalam pengurus organisasi bagian kemesjidan. Pasti dia anak yang baik dan shaleh"..(Preeeeeeeeeeeeet). Ketidaknyamanan mulai dialami Abraham, karena kehadiran adik disatu sekolah yang sama.
>>> Pada suatu hari, Abraham mengajak adiknya kabur dari pondok untuk pulang kerumah.
Abraham : dik..pulang kita yook..
adik : buat apa ?
Abraham : pokoknya pulang saja, kan dirumah kita besok pesta.
adik : oya ya. Apakah sudah minta izin bang?
Abraham : Sudah..qe tenang ja..(padahal Abraham berbohong)
adik : oke. jika sudah minta izin, tunggu saya ganti pakaian dulu.
Abraham : jangan lama – lama, takutnya magrib. ( jawabnya dengan nada sinis)
>>> sekembalinya dipondok, setelah shalat isya, berdiri seorang ustaz bagian pengasuhan. Bagian ini di pondok terkenal keras, disegani para santri. Pengumuman dibacakan “Huna i'lan wahid, yahzuranna ila diwani rri'ayati thalabah, al'an, huma : Abraham wa Ridha. Artinya : diharapkan datang ke kantor pengasuhan sekarang juga, mereka adalah : Abraham dan Ridha.
Suasana dikantor sudah tidak kondusif, dan berharap ada letusan bom yang meledakkan kantor ini. Begitu harapan Abraham. Susana hatinyapun setengah di bumi dan setengahnya lagi di akhirat. kwkwkwkwkwkwkwk..
>>persidanganpun dimulai..
ustaz : kenapa kalian kaburrrrrrrrrrrrrrrrrrrr? “pernah dengar Brimob marah?”.. meunanlah kira kira. haha
Abraham : &%#@@#>"?:_)*&.
ustaz : Ridha, sekarang jongkok kamu, jangan lupa baca bismillah (mau dirotanin)
dalam hati Abraham “Ka mate qe, kop ngeri disupot. Sang jadeh meninggai malamnyo”.
ustaz : Abraham, sekarang giliran kamu, angkat kakimu ..
ciyung..ciyung..ciyung..ciyung (bunyi rotan)
Ustaz : naaakk..besok besok, kalau mau pulang tolong minta izin, jangan suka melanggar. Ya sudah, sekarang pulang ke asrama dan istirahat, semoga ini menjadi obat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar