Sebenarnya,
cinta yang Anda rasakan terhadap kekasih itu bukan berasal dari hati. Otaklah
yang menggerakkan itu semua. Ada bagian di otak yang mampu
memberikan rangsangan kepada pemiliknya untuk memberikan respon emosi, bahagia,
sampai merasakan cinta.
Rasa cinta muncul dari bagian otak
yang juga bekerja tatkala seseorang kecanduan narkoba. Di sana ada
kesamaan dalam memroses sistem kerja antara dua hal itu. Dengan
kata lain, cinta itu juga memiliki efek candu.
Cinta muncul di posisi otak yang menjadi semacam “pusat kesenangan”.
“Bagian tersebut membantu kita
mengenali kebahagiaan,” ujar Lucy Brown, ahli saraf dari Albert Einstein
College of Medicine, New York, dikutip National Geographic.
Dari bagian otak ini, manusia bisa
merasakan cinta yang mendalam sekaligus perasaan lain yang menyertainya.
Seperti cemas, resah, deg-degan, dan sebagainya yang menjadi hasil kerja sistem
diotak.
Hebatnya otak, dia bisa
menganalisa lawan jenis yang cocok sebagai pasangan serta memberikan stimulan
untuk bisa menyukai orang itu. Akhirnya muncullah inisiatif tindakan untuk
mewujudkan keinginan agar
selalu bisa berdampingan. Seperti merayu, berkasih sayang, atau cari perhatian.
Cinta menjadi perasaan sangat kuat dalam diri seseorang.
“Kita merasa bahagia saat jatuh
cinta, sekaligus merasa cemas,” kata Brown.
Arthur Aron, psikolog dari State
University of New York, dalam penelitiannya mengatakan, seorang
pasangan yang saling mencintai dalam waktu lama, bagian otak yang memroses ikatan dan
pujian akan terus bekerja.
“Selama cinta masih bertahan, kita
terbiasa dengan sebuah hubungan, dan kita tidak takut pasangan kita akan
meninggalkan kita,” ujar Arthur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar