Saya tidak pernah ada niat untuk menjadi sahabatmu, saya
juga tidak pernah kenal siapa dirimu, inilah waktu yang mempertemukan kita.
Sedikit merasa nice bisa berkenalan dan berteman sama anda. Tapi
terkadang ada jiwa lain yang datang tanpa kuundang…ah begitulah maksudnya.
Namanya “ukhti” ! teman baru kami. Berawal dari pertemuan
dengan teman-teman di warung kopi, biasa hanya buat canda dan obrolan tawa, sanking
asyiknya tertawa dan bercanda, kebetulan sileila datang dengan temannya.
Jujur saya belum pernah melihat kawan yang satu itu. Tanpa memperpanjang
khayalan saya langsung menjawab salam siLeila..
Wa’alaikumsalam La. Kok bisa telat kali datangnya Leila, kan
kita janjinya jam 9 udah ngumpul disini, ujar saya pada Leila.
Leila hanya tersenyum dan meminta maaf. Maaf ee..saya tadi
jemput kawan dulu, baru bisa kemari. Oya perkenalkan teman Leila, namanya
ukhti. Dia baru datang ke Banda Aceh.
Kami mencoba taarruf dengan ukhti, kami mencoba membuat
pendekatan dengannya, biasalah pertanyaan basa basi, tinggal dimana, kuliah
dimana, ada gerangan apa ke Banda Aceh, begitulah lebih kurang pertanyaannya.
Bukan sok atau takabbur, meeting kami diwarung kopi bukan
seperti yang dibayangkan, dimana kami duduk berdesak-desakan dengan perempuan,
merokok, ketawa besar-besar. Namun kami mencoba menjaga etika. Namanya saja kumpulan anak shaleh..hehehe.
To the point, rupanya ukhti tidak seperti yang dibayangkan,
awalnya kami mengira dia anak pemalu, pendiam tanpa sepatah kata. Rupanya dia
mulai bertanya dan berbicara dengan kami. “Sangat bahagia bila dia sudah mulai
berani berbicara”ungkap dalam hatiku.
Pertemuan selesai, kami beranjak pergi dari warung kopi,
tapi sebelum ukhti menaiki sepeda motornya, saya mencoba menghampirinya
dengan niat meminta nomor handphonennya.
Alhamdulillah, karna permintaanku sopan dan tidak ada niat
jahat, dengan tulus dia berikan nomornya. Makasih ya ukhti sambil tersenyum
malu mengatakannya :)
>>Malampun tiba<<
Saya mencoba melihat kea rah jam sudah menunjukkan jam 9
malam, entah mengapa malam itu rasanya ingin cepat tidur, mungkin karna
kelelahan beraktifitas.
Jam 12 malam saya terbangun dengan niat ke kamar mandi, biasa
ambil wudhuk untuk shalat isya, karna tadi memang sudah niat untuk shalat tengah
malam ///whehehehe……
Selesai shalat, saya melihat ada cahaya lampu handphone yang
berkelap kelip, biasanya itu tanda ada pesan masuk atau panggilan tak terjawab.
Saya mencoba mengambil handphone dan
masyaAllah…ada 3 (tiga) panggilan tak
terjawab.
Biasanya saya biasa saja melihat panggilan tak terjawab dari
siapa saja, ungkapan hati dengan nada sedikit sombong ..hehe//
Saya sedikit merasa penasaran siapa yang menelpon saya,
Eitsssss…. Rupanya nomor si ukhti, teman yang baru saya kenal tadi. Perasaan gelisah
tak nyaman, merasa bersalah dengan sikap dan tingkah, ingin rasanya kembali
menghubunginya tapi seperti ada rasa beban. Itulah fenomena pemikiran saya
malam itu.
Sudah larut malam, tidak enak juga jika saya hubungi tengah
malam. Saya kembali beranjak tidur dengan menghayal 3 PANGGILAN TAK TERJAWAB.
Jangan-jangan ada
sesuatu yang ingin disampaikan ukhti, atau jangan-jangan apa ada yang salah
dengan saya tadi, sehingga membuat ukhti menelpon saya.
Bismikallahumma ahya Waamut

:)
BalasHapusPenasaran sama kisah lnjutan dengan si ukhti, mana nih entri terbaru ttg si ukhti? ckckck
BalasHapustlong sambung bntr bisa?
Hapus