Sabtu, 14 April 2012

“TULISAN DALAM FLASHDISK MU”


“Saya bukanlah seorang yang professional  bagi kamu, dan saya juga bukan seorang yang bisa kamu banggakan. Namun jujur, perasaan aku tulus mencintaimu”  itulah kalimat yang selalu membayangi pikiran Akha, kalimat yang selalu ada dibenak dia pada kalimat disalah satu Novel yang dibacanya.


Akha seorang pelajar pesantren yang  ramah terhadap teman – temannya, dia selalu menjadi sosok yang mampu menyelesaikan permasalahan teman-teman yang lain. Tidak sedikit teman Akha yang curhat. Namun mereka tak pernah tau bahwa Akha sebetulnya hidup  dalam keadaan susah, keluarga seolah tidak meyanyanginya, ia harus banting tulang untuk mencari nafkah sendiri demi  kelancaran pendidikannya.


Beruntung dia menjadi anak angkat seorang ibu miskin didesa dekat pesantrennya. Ibu latifa yang selalu mendorong dia untuk tetap semangat belajar, berakhlak mulia dimanapun. Sesekali ibu Latifa datang menjumpainya ke pesantren  untuk memberikan makanan yang sudah dimasakinya walau dibungkus dengan daun pisang.

Entah kenapa keluarga akha begitu membencinya, Akha mulai tidak pulang lagi kerumah setelah dia selalu menjadi bahan cemoohan bagi keluarga. Ide dan apa yang dia lakukan selalu disalahkan. Akha mulai depresi dan sakit-sakitan. Dia sempat kabur dari rumah selama 7 hari namun pihak keluarga tak satu pun  mencarinya.

Akha mulai memikir bahwa dia sudah tidak dibutuhkan lagi oleh keluarga. Akhirnya Akha meyakinkan diri untuk berhijrah dari kampong halamannya dan akhirnya bertemu dengan seorang Ibu yang sudah tua tinggal digubuk yang sudah tidak layak dihuninya lagi. Akha diberikan  air putih hingga akhirnya terjadi perbincangan antara akha dan ibu  latifa.

Sebuah Pondok pesantren yang berada disekitar rumah ibu Latifa, ibu latifa kenal dekat dengan beberapa ustaz pesantren tersebut. Ibu latifa mencoba memohon untuk bisa menerima akha sebagai salah seorang santri dipesantren tersebut.

Waktu terus berjalan, pergaulan dipesantren kadang2  juga membuat Akha menangis, karna tidak sedikit yang menjadi wali dari teman-temannya adalah orang kaya, sedang wali akha hanyalah seorang ibu  yang tinggal digubuk. Tapi Akha sangat yakin dan mencoba menguatkan perasaannya bahwa walau miskin harta tapi sangat kaya jiwanya.

Akha menjadi anak yang terbaik dipesantren tersebut, tidak tanggung-tanggung prestasi juara 1 mampu ia raih berkat kesungguhan dia.
Suatu hari akha memasuki perpustakaan dengan niat membaca buku, rak demi rak dia lewati untuk mencari buku  yang ingin dibacanya, tanpa sengaja ia melihat ada novel yang terletak diantara sekian banyak buku pelajaran. Dia penasaran dengan novel tersebut. Sebuah novel pembangun jiwa dengan judul “TULISAN DALAM FLASHDISK MU” yang menceritakan tentang seorang  lelaki miskin yang mencintai wanita cantik dan pintar juga kaya.

Akha membacanya pelan-pelan, seolah kisah yang ada didalamnya terbawa kealam pikirannya. Mata akha mulai basah, kisah yang sangat menyentuh jiwanya. Sampai sebuah kalimat yang selalu ia ingat “Saya bukanlah seorang yang professional  bagi kamu, dan saya juga bukan seorang yang bisa kamu banggakan. Namun jujur, perasaan aku tulus mencintaimu dengan apa adanya”  .
Entah mengapa kalimat tersebut begitu berarti bagi Akha. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar