“Saya bukanlah seorang yang professional bagi kamu, dan saya juga bukan seorang yang
bisa kamu banggakan. Namun jujur, perasaan aku tulus mencintaimu” itulah kalimat yang selalu membayangi pikiran
Akha, kalimat yang selalu ada dibenak dia pada kalimat disalah satu Novel yang
dibacanya.
Akha seorang pelajar pesantren yang ramah terhadap teman – temannya, dia selalu
menjadi sosok yang mampu menyelesaikan permasalahan teman-teman yang lain. Tidak
sedikit teman Akha yang curhat. Namun mereka tak pernah tau bahwa Akha
sebetulnya hidup dalam keadaan susah,
keluarga seolah tidak meyanyanginya, ia harus banting tulang untuk mencari
nafkah sendiri demi kelancaran
pendidikannya.
Beruntung dia menjadi anak angkat seorang ibu miskin didesa
dekat pesantrennya. Ibu latifa yang selalu mendorong dia untuk tetap semangat
belajar, berakhlak mulia dimanapun. Sesekali ibu Latifa datang menjumpainya ke
pesantren untuk memberikan makanan yang
sudah dimasakinya walau dibungkus dengan daun pisang.
Entah kenapa keluarga akha begitu membencinya, Akha mulai
tidak pulang lagi kerumah setelah dia selalu menjadi bahan cemoohan bagi
keluarga. Ide dan apa yang dia lakukan selalu disalahkan. Akha mulai depresi
dan sakit-sakitan. Dia sempat kabur dari rumah selama 7 hari namun pihak
keluarga tak satu pun mencarinya.
Akha mulai memikir bahwa dia sudah tidak dibutuhkan lagi
oleh keluarga. Akhirnya Akha meyakinkan diri untuk berhijrah dari kampong halamannya
dan akhirnya bertemu dengan seorang Ibu yang sudah tua tinggal digubuk yang
sudah tidak layak dihuninya lagi. Akha diberikan air putih hingga akhirnya terjadi perbincangan
antara akha dan ibu latifa.
Sebuah Pondok pesantren yang berada disekitar rumah ibu
Latifa, ibu latifa kenal dekat dengan beberapa ustaz pesantren tersebut. Ibu
latifa mencoba memohon untuk bisa menerima akha sebagai salah seorang santri
dipesantren tersebut.
Waktu terus berjalan, pergaulan dipesantren kadang2 juga membuat Akha menangis, karna tidak
sedikit yang menjadi wali dari teman-temannya adalah orang kaya, sedang wali akha
hanyalah seorang ibu yang tinggal
digubuk. Tapi Akha sangat yakin dan mencoba menguatkan perasaannya bahwa walau
miskin harta tapi sangat kaya jiwanya.
Akha menjadi anak yang terbaik dipesantren tersebut, tidak
tanggung-tanggung prestasi juara 1 mampu ia raih berkat kesungguhan dia.
Suatu hari akha memasuki perpustakaan dengan niat membaca
buku, rak demi rak dia lewati untuk mencari buku yang ingin dibacanya, tanpa sengaja ia
melihat ada novel yang terletak diantara sekian banyak buku pelajaran. Dia penasaran
dengan novel tersebut. Sebuah novel pembangun jiwa dengan judul “TULISAN DALAM FLASHDISK MU”
yang menceritakan tentang seorang lelaki
miskin yang mencintai wanita cantik dan pintar juga kaya.
Akha membacanya pelan-pelan, seolah kisah yang ada
didalamnya terbawa kealam pikirannya. Mata akha mulai basah, kisah yang sangat
menyentuh jiwanya. Sampai sebuah kalimat yang selalu ia ingat “Saya bukanlah
seorang yang professional bagi kamu, dan
saya juga bukan seorang yang bisa kamu banggakan. Namun jujur, perasaan aku
tulus mencintaimu dengan apa adanya” .
Entah mengapa kalimat tersebut begitu berarti bagi Akha.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar